
Oleh : Umar Ibnu Rusydi
Manusia bukanlah iblis yang selalu salah ataupun malaikat yang selalu benar, namun manusia bisa benar dan bisa salah. Tujuan diciptakannya manusia dan jin pada hakikatnya tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt., ibadah yang dilakukan tidaklah hanya shalat, puasa, zikir ataupun sodaqoh tetapi amalan-amalan baik duniawi bisa menjadi medan beribadah jika diniatkan untuk Allah Ta’ala. Terutama berbuat baik kepada sesama manusia, tak perduli apapun statusnya, bagaimana ibadahanya, bagaimana akhlaknya dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah tolak ukur dalam beramal, yang terpenting adalah kemurnian kasih sayang dalam memperlakukan sesama manusia.
Orang shalih bukanlah orang yang paling banyak ibadahnya secara mutlak, tetapi orang shalih adalah orang yang memiliki hati yang bersih, tidak mendengki, tidak menghasud, tidak iri, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain dan terhindar dari segala macam sifat-sifat tercela. Jika hanya ibadah yang menjadi tolak ukur seseorang untuk menjadi shalih, maka pendengki yang sering tahajud pun bisa dikatakan shalih, pembohong yang selalu ke masjid pun bisa dikatakan shalih. Ahli ibadah yang selalu menyakiti hati orang lain diancam akan dimasukkan kedalam neraka, lebih baik orang yang memiliki amal ibadah sedikit namun perbuatan dan perkataannya tidak pernah membuat orang lain sakit hati.
Semua orang memiliki kesempatan, orang yang baik memiliki kesempatan untuk berbuat keburukan dan orang yang buruk memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. Maka dari itu janganlah merasa diri paling baik, paling bersih, dan paling sempurna diantara yang lain, sebab tatkala kita melihat seseorang berbuat kemaksiatan didepan mata kita dan kemudian orang itu pergi janganlah menganggap orang itu buruk lagi, karena mungkin saja ketika dia terhalang dari pandangan, orang itu beristighfar dan bertaubat kepada Allah Swt. kemudian Allah Swt. menerima taubatnya serta mengangkat derajatnya lebih tinggi daripada derajat kita.
Kunci daripada adab adalah dengan selalu melihat diri sendiri lebih hina atau kurang daripada orang lain dan melihat orang lain lebih mulia daripada diri kita. Jika kita telah mendapatkan kunci itu maka kita akan mendapatkan kesungguhan dalam berakhlak. Ketika kita selalu menganggap diri lebih hina dan orang lain lebih mulia itu merupakan wujud dari kesadaran diri bahwa keagungan hanyalah milik Allah Swt. semata dan setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka buah daripada itu adalah selalu menghormati orang lain tanpa pandang bulu dan terhindar dari kesombongan.
Tugas kita di dunia hanyalah untuk beribadah dan amar ma’ruf nahi munkar, dengan catatan nahi munkar dilakukan dengan cara yang ma’ruf juga. Bukan tugas kita untuk menilai baik buruk seseorang. Bagaimana kita menilai derajat seseorang sedangkan derajat diri sendiri saja kita tidak mengetahuinya. Analoginya seperti murid tidak bisa mengisi raportnya sendiri karena gurulah yang berhak untuk menilai murid. Pandanglah semua manusia dengan pandangan rahmat, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun rasnya cukup pandang dia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. yang berhak mendapatkan haknya sebagai manusia. Persoalan baik atau buruknya, dosa atau tidaknya, dan surga atau nerakanya biarlah Allah yang mengurusnya, kita sesama makhluk jangan ikut campur dalam menilai.
Semoga Allah Swt. menjauhkan kita semua daripada sifat sum’ah (membangga-banggakan diri sendiri), takabbur, hasud dan akhlak tercela lainnya dan menyifati kita dengan akhlak terpuji. Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawwaab.
Ciputat, 7 Juli 2019






-1.jpeg)
