PANDANGAN RAHMAT

Oleh : Umar Ibnu Rusydi


Manusia bukanlah iblis yang selalu salah ataupun malaikat yang selalu benar, namun manusia bisa benar dan bisa salah. Tujuan diciptakannya manusia dan jin pada hakikatnya tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt., ibadah yang dilakukan tidaklah hanya shalat, puasa, zikir ataupun sodaqoh tetapi amalan-amalan baik duniawi bisa menjadi medan beribadah jika diniatkan untuk Allah Ta’ala. Terutama berbuat baik kepada sesama manusia, tak perduli apapun statusnya, bagaimana ibadahanya, bagaimana akhlaknya dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah tolak ukur dalam beramal, yang terpenting adalah kemurnian kasih sayang dalam memperlakukan sesama manusia.

Orang shalih bukanlah orang yang paling banyak ibadahnya secara mutlak, tetapi orang shalih adalah orang yang memiliki hati yang bersih, tidak mendengki, tidak menghasud, tidak iri, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain dan terhindar dari segala macam sifat-sifat tercela. Jika hanya ibadah yang menjadi tolak ukur seseorang untuk menjadi shalih, maka pendengki yang sering tahajud pun bisa dikatakan shalih, pembohong yang selalu ke masjid pun bisa dikatakan shalih. Ahli ibadah yang selalu menyakiti hati orang lain diancam akan dimasukkan kedalam neraka, lebih baik orang yang memiliki amal ibadah sedikit namun perbuatan dan perkataannya tidak pernah membuat orang lain sakit hati.

Semua orang memiliki kesempatan, orang yang baik memiliki kesempatan untuk berbuat keburukan dan orang yang buruk memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. Maka dari itu janganlah merasa diri paling baik, paling bersih, dan paling sempurna diantara yang lain, sebab tatkala kita melihat seseorang berbuat kemaksiatan didepan mata kita dan kemudian orang itu pergi janganlah menganggap orang itu buruk lagi, karena mungkin saja ketika dia terhalang dari pandangan, orang itu beristighfar dan bertaubat kepada Allah Swt. kemudian Allah Swt. menerima taubatnya serta mengangkat derajatnya lebih tinggi daripada derajat kita.

Kunci daripada adab adalah dengan selalu melihat diri sendiri lebih hina atau kurang daripada orang lain dan melihat orang lain lebih mulia daripada diri kita. Jika kita telah mendapatkan kunci itu maka kita akan mendapatkan kesungguhan dalam berakhlak. Ketika kita selalu menganggap diri lebih hina dan orang lain lebih mulia itu merupakan wujud dari kesadaran diri bahwa keagungan hanyalah milik Allah Swt. semata dan setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka buah daripada itu adalah selalu menghormati orang lain tanpa pandang bulu dan terhindar dari kesombongan.

Tugas kita di dunia hanyalah untuk beribadah dan amar ma’ruf nahi munkar, dengan catatan nahi munkar dilakukan dengan cara yang ma’ruf juga. Bukan tugas kita untuk menilai baik buruk seseorang. Bagaimana kita menilai derajat seseorang sedangkan derajat diri sendiri saja kita tidak mengetahuinya. Analoginya seperti murid tidak bisa mengisi raportnya sendiri karena gurulah yang berhak untuk menilai murid. Pandanglah semua manusia dengan pandangan rahmat, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun rasnya cukup pandang dia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. yang berhak mendapatkan haknya sebagai manusia. Persoalan baik atau buruknya, dosa atau tidaknya, dan surga atau nerakanya biarlah Allah yang mengurusnya, kita sesama makhluk jangan ikut campur dalam menilai.

Semoga Allah Swt. menjauhkan kita semua daripada sifat sum’ah (membangga-banggakan diri sendiri), takabbur, hasud dan akhlak tercela lainnya dan menyifati kita dengan akhlak terpuji. Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawwaab.

Ciputat, 7 Juli 2019

Ramadhan Membentuk Pribadi Muslim Sejati

Marhaban Yaa Syahral Kariim…

Siapa yang tak gembira akan kedatangan bulan mulia ini? Seluruh muslim harusnya gembira mendengar kedatangan bulan Ramadhan, karena dengan kegembiraan tersebut kita akan mendapat limpahan rahmat yang lebih dari Allah Ta’ala.

Bulan Ramadhan adalah ajang umat muslim untuk melatih diri menahan segala hawa nafsu yang bersemayam di hati. Sesiapa yang menang niscaya akan mendapat keberuntungan karena telah menundukkan hawa nafsunya, akan tetapi merugilah orang yang kalah oleh hawa nafsunya di bulan Ramadhan ini, mereka hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja tetapi tidak mendapat peningkatan ruhani. Sungguh merugilah orang-orang tersebut, nauzubillah.

Berpuasa tidak hanya sekadar menahan untuk tidak makan dan minum, tetapi juga menahan diri untuk tidak menuruti nafsu hewani kita. Hasud, dengki, amarah, sombong, rakus, dan lain sebagainya merupakan penyakit-penyakit hati yang harus kita hindari agar mendapat kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Itulah hakikat sejati dari ‘menahan’ di bulan Ramadhan ini, hawa nafsu adalah musuh yang paling berat untuk kita perangi, sekali saja hawa nafsu dituruti maka akan terus menerus menagih, lagi dan lagi sampai nanti tiba ajal menjemput. Oleh karena itu, janganlah sesekali kita menuruti hawa nafsu kita, jangan sampai hawa nafsu menguasai akal pikiran kita karena jika akal pikiran kita telah dikuasai oleh hawa nafsu maka diri kita akan menjadi budaknya hawa nafsu. Wal ‘iyadzu billahi.

Manusia memang sudah fitrahnya memiliki hawa nafsu, tugas kita sebagai manusia adalah bagaimana mengontrol hawa nafsu tersebut agar tidak menguasai kita untuk melakukan hal-hal yang dilanggar oleh Allah Ta’ala. Sekalipun melakukan hal-hal yang dibolehkan, dianjurkan untuk melakukannya secara cukup dan tidak berlebihan.

Menjadi Muslim Sejati

Apa yang dituntut kepada setiap muslim di bulan Ramadhan hakikatnya adalah pribadi yang harus dimiliki muslim. Oleh karena itu, bulan Ramadhan ini ibarat sekolah untuk para pelajar, di sekolah Ramadhan ini kita dituntut untuk menjadi murid yang berakhlak baik yang diharapkan kelak nanti setelah menyelesaikan sekolahnya akan tertanam nilai-nilai luhur yang diajarkan di sekolah tersebut sehingga bisa menjadi tauladan bagi lingkungan sekitar hingga akhir hayatnya nanti.

Maka kegiatan menebar kebaikan, cinta dan kasih sayang diharapkan jangan hanya terjadi disaat-saat Ramadhan lalu kemudian hilang semua nilai-nilai luhur yang telah dikerjakan di bulan Ramadhan tersebut akan sangat sayang sekali. Itu berarti kita sebagai muslim hanya melakukan kebaikan temporer saja, hanya 30 hari kita sadar untuk melakukan kebaikan dan menahan segala hasrat buruk dalam diri, kemudian selebihnya bebas melakukan keburukan kembali. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama menata hati kita kembali untuk berperilaku sebagaimana mestinya muslim sejati berperilaku untuk jangka waktu selamanya, tidak hanya di bulan Ramadhan.

Renungkanlah wahai saudara, masihkah kita diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan di tahun depan? Jangankan untuk tahun depan, hari esok saja kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak.

Jangan sia-siakan Ramadhan yang kita lalui, jadikan setiap detiknya menjadi nilai ibadah untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala serta ajang untuk mengembalikan jati diri kita sebagai seorang muslim sejati.

Wallahu a’lam bishshawwaab

Tarekat

Definisi

Tarekat atau thariqah dalam bahasa arab memiliki arti jalan, secara istilah berarti jalan yang ditempuh untuk bisa mencapai ridha Allah SWT.. Artinya tarekat adalah sebuah jalan yang ditempuh oleh para penempuhnya dengan cara melakukan olah batin untuk medekatkan diri kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya serta mendapatkan keluhuran spiritual dalam diri.

Dalam tarekat, guru pembimbing dikenal dengan sebutan mursyid, seorang mursyid harus memiliki kematangan spiritual yang cukup, sehingga segala perbuatan lahiriah dan keadaan bathiniahnya menjadi contoh bagi para murid-murid tarekat. Seorang mursyid tarekat sulit tergantikan, sekalipun itu dengan anaknya sendiri, karena untuk mencapai kematangan spiritual yang cukup untuk menjadi seorang mursyid bukanlah hal yang mudah. Hal itu memerlukan mujahadah yang keras dan waktu yang lama, sehingga tidak semua orang dapat menjadi mursyid. Dari mursyid tersebut seorang murid tarekat akan mendapat bimbingan agar dapat mencapai kualitas kematangan spiritual yang tinggi, bimbingan tersebut berupa bacaan-bacaan wirid, shalawat, ibadah serta olah batin seperti perintah untuk menahan syahwat, marah, berkhalwat (menyendiri) dan lain sebagainya.


Tujuan

Tujuan inti tarekat ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan ridho-Nya semata, melalui olah batin-olah batin yang dibimbing oleh seorang mursyid. Jadi, tujuan tarekat bukanlah menjadikan seseorang itu menjadi wali atau karamah, melainkan bagaimana caranya seorang pengamal tarekat dapat membersihkan hatinya dari sifat lalai kepada Allah SWT. dan baginda Nabi Muhammad SAW..

Tarekat yang dimaksud adalah bentuk daripada ihsan, bagaimana kita selalu merasa bahwa Allah mengawasi dan kita diawasi oleh-Nya, dari pengamalan ihsan itulah akan terlahir rasa hati-hati dalam segala tindak-tanduk kita sebagai seorang hamba untuk tidak melanggar syariat yang telah Allah tentukan.


Antara Syariat dan Tarekat

Syariat dan tarekat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, jika diibaratkan, syariat sebagai pohon dan tarekat adalah buahnya. Oleh karena itu, buah tidak akan ada tanpa adanya pohon. Syariat yang diperlukan disini adalah mengetahui dasar rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam, seperti shalat, hal-hal yang membatalkan shalat, puasa, wudhu, sifat-sifat wajib Allah SWT., sifat-sifat Rasul SAW., dan syariat-syariat lainnya.

Sebagai contoh ialah shalat, dalam syariat shalat adalah aktivitas jasad yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang didalamnya terdapat ruku’, i’tidal, sujud, duduk, dan tasyahhud. Manfaat tarekat disini ialah untuk mendapat buah daripada shalat itu, tidak hanya formalitas belaka, tetapi bagaimana shalat itu mampu membentuk karakter seorang mukmin yang bertakwa kepada Allah SWT. dan benar-benar menjadi pencegah daripada perbuatan keji dan munkar.


Syarat Tarekat

Syarat memasuki tarekat ialah memahami dasar-dasar rukun Iman dan Islam serta mengenai hal-hal yang halal dan haram. Dikatakan oleh Habib Luthfi, bahwasanya pada zaman dahulu para alim ulama mensyaratkan orang yang ingin memasuki tarekat haruslah mengerti tentang syariat beserta detailnya, tetapi melihat kondisi zaman sekarang tidak memungkinkan maka jika tetap disyaratkan seperti itu maka akan sulit. Oleh karena, itu syarat tersebut diperingan dengan hanya dicukupkan untuk mengerti dasar hukum syariat maka sudah bisa bertarekat. Akan tetapi, setelah memasuki tarekat kewajiban untuk terus mempelajari syariat lebih dalam lagi tetap ada.

Adapun mengenai umur, tidak harus menunggu tua untuk bergabung dalam tarekat, jika umur muda sudah memenuhi kriteria, maka diperbolehkan bergabung. Tolak ukur umur disini dikatakan oleh Habib Luthfi adalah minimal 18 tahun dan tentunya telah mengerti hukum-hukum dasar dalam syariat. Umur adalah rahasia Allah, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan ajal datang. Jikalau bertarikat harus menunggu tua, bagaimana jika saat usia muda wafat? Padahal dua kriteria sudah terpenuhi dan tekad sudah bulat, maka sayang sekali jika belum bergabung dalam tarekat.

Sebelum memasuki tarekat, seorang murid harus memperoleh ijazah (pengesahan) dan baiat (sumpah setia) kepada sang mursyid. Jika tidak melakukan baiat dan ijazah, maka tidak dikatakan bertarekat. Menjalani tarekat memang tidak mudah, karena jika telah terikat baiat maka menjalankan amalan-amalan tarekat menjadi suatu kewajiban yang mana akan berdosa jika sengaja ditinggalkan. Tetapi, dilain sisi, tarekat ini sangatlah baik untuk menata hati agar tidak lalai dari Allah SWT. yang mana akan memuwujudkan ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu diperlukan tekad yang kuat untuk menjalani tarekat ini, jangan sampai asal-asalan dalam menjalaninya karena hanya akan memberatkan kita.


Pemuda dan Tarekat

Umumnya orang-orang mengenal tarekat hanyalah untuk orang-orang tua yang sudah berkeluarga dan sepuh. Namun, anggapan itu tidaklah sepenuhnya benar, karena anak muda pun dianjurkan untuk mengikuti tarekat, terlebih di zaman sekarang banyak sekali hal-hal yang mudah membuat kita lalai dari Allah SWT.. Masa muda ialah masa yang berapi-api, semua hal ingin dicicipi sampai tak jarang yang nekat menerobos syariat Allah SWT. hanya untuk memuaskan syahwatnya. Oleh karena itu, jika seorang pemuda telah mencukupi kriteria maka dianjurkan untuk masuk tarekat untuk menyempurnakan mujahadahnya dalam menertibkan hati. Keuntungan bertarekat dimasa muda ialah akan terbiasa untuk mengontrol hati dari lalai, jika telah terbiasa mengontrol hati maka dimasa tua akan mudah untuk mengontrolnya dan tidak mudah merasa gundah saat masa tua datang. Selain itu, kemuliaan-kemuliaan akan Allah SWT. berikan lebih awal jika saat mudanya telah serius menjalani tarekat dan juga pergaulan akan terjaga karena nilai-nilai tarekat sudah tertanam sejak muda.

Sebagai sarana untuk mewadahi para pemuda untuk bertarekat, Habib Luthfi, Raais ‘Aam Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) membuat organisasi khusus bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin belajar tarekat yaitu MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyyah), yang terdapat pada setiap kampus-kampus maupun diluar kampus.

Mengenal Sosok Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya

Siapa yang tak kenal dengan tokoh karismatik ini, Habib Luthfi namanya, salah satu tokoh ulama Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia. Habib Luthfi akrab disapa Abah oleh masyarakat, karena kedalaman ilmunya dan kedekatannya dengan umat tanpa melihat perbedaan, tak heran jika Abah menjadi salah satu ulama idola masyarakat. Mulai dari kalangan bawah sampai para elite segan dengannya, tak jarang jika pada musim kampanye banyak para pejabat patpol sowan hanya untuk bersilaturahim dan meminta berkah doa darinya, Abah selalu menerima jika ada dari para pejabat negara datang ke rumahnya untuk meminta nasihat dan doanya.

Habib Luthfi lahir di Pekalongan pada tanggal 10 November 1947 (27 Rajab 1367 H) dari pasangan al-Habib Ali bin Hasyim bin Yahya dan as-Syarifah al-Karimah Nur binti Sayyid Muhsin. Beliau sejak tahun 2000 sampai saat ini menjabat sebagai Raais ‘Aam JATMAN (Jam’iyyah Ahli ath-Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdhiyyah) sebuah organisasi tarekat mu’tabaroh Indonesia. Selain menjadi Raais ‘Aam JATMAN, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah dan sekarang menjadi Ketua Umum MUI Kota Pekalongan.

Pendidikan

Pendidikan pertama beliau dapatkan dari ayahandanya al-Habib al-Hafizh ‘Ali al-Ghalib kemudian setelah itu beliau melanjutkan ke Madrasah Salafiah, guru-guru beliau di Madrasah Salafiah antara lain:

  • Sayid Ahmad bin ‘Ali bin al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid
  • Habib Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)
  • Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi
  • Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi

Beliau belajar 3 tahun di madrasah tersebut.

Pada tahun 1959, Habib Luthfi mengembara ke Cirebon untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren Bendo Kerep. Setelah dari Cirebon beliau melanjutkan ke Indramayu, Tegal dan Purwokerto. Beliau juga pernah mondok di Pondok Pesantren Balekembang Jepara yang saat itu diasuh oleh K.H Abdullah Hadziq bin Hasbullah. Setelah mengenyam pendidikan di Indonesia ia melanjutkan pengembaraan ke dua tanah suci, yaitu Mekkah dan Madinah serta negara-negara timur lainnya.

Dari guru-gurunya tersebut beliau mendapatkan ijazah Khash (khusus) dan ‘Aam (umum) dalam dakwah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syariat), ilmu thariqah, tashawwuf, hadis, tafsir, fiqih, kitab-kitab shalawat, aurad, hizb, sanad thariqah, serta ijazah untuk membai’at.


Nasab Jalur Ayah

  • Nabi Muhammad SAW
  • Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
  • Imam Husein ash-Sibth
  • Imam Ali Zainal Abiddin
  • Imam Muhammad al-Baqir
  • Imam Ja’far Shadiq
  • Imam Ali al-Uraidhi
  • Imam Muhammad an-Naqib
  • Imam Isa an-Naqib ar-Rumi
  • Imam Ahmad Al-Muhajir
  • Imam Ubaidullah
  • Imam Alwy Ba’Alawy
  • Imam Muhammad
  • Imam Alwy
  • Imam Ali Khali Qasam
  • Imam Muhammad Shahib Marbath
  • Imam Ali
  • Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy
  • Imam Alwy al-Ghuyyur
  • Imam Ali Maula Darrak
  • Imam Muhammad Maulad Dawileh
  • Imam Alwy an-Nasiq
  • Al-Habib Ali
  • Al-Habib Hasan
  • Al-Imam Yahya Ba’Alawy
  • Al-Habib Ahmad
  • Al-Habib Syekh
  • Al-Habib Muhammad
  • Al-Habib Thoha
  • Al-Habib Muhammad al-Qodhi
  • Al-Habib Thoha
  • Al-Habib Hasan
  • Al-Habib Thoha
  • Al-Habib Umar
  • Al-Habib Hasyim
  • Al-Habib Ali
  • Al-Habib Muhammad Luthfi

Nasab Jalur Ibu

  • Nabi Muhammad SAW
  • Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
  • Imam Husein ash-Sibth
  • Imam Ali Zainal Abiddin
  • Imam Muhammad al-Baqir
  • Imam Ja’far Shadiq
  • Imam Ali al-Uraidhi
  • Imam Muhammad an-Naqib
  • Imam Isa an-Naqib ar-Rumi
  • Imam Ahmad Al-Muhajir
  • Imam Ubaidullah
  • Imam Alwy Ba’Alawy
  • Imam Muhammad
  • Imam Alwy
  • Imam Ali Khali Qasam
  • Imam Muhammad Shahib Marbath
  • Imam Ali
  • Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy
  • Imam Alwy al-Ghuyyur
  • Imam Ali Maula Darrak
  • Imam Muhammad Maulad Dawileh
  • Sayyid Sahal
  • Imam Muhammad
  • Imam Salim
  • Imam al Kabir Sayid Abdullah
  • al Imam ‘Alawi
  • Sayid al Imam Muhammad
  • Sayid Imam ‘Alawi
  • Sayid Hasan
  • Sayid Muhsin
  • Sayid al Imam Shalih
  • Sayid Salim
  • Sayid Muhsin
  • Sayyidah al Karimah as Syarifah Nur
  • Al-Habib Muhammad Luthfi

Bai’at dan Sanad Thariqah

Habib Luthfi merupakan mursyid daripada thariqah Syadziliyyah, beliau mendapatkan ijazah untuk menjadi mursyid dan membai’at daripada ulama-ulama besar. Selain thariqah Syadziliyyah beliau memiliki ijazah thariqah yang lainnya, adapun sanad-sanad thariqah yang beliau miliki ialah:

  • Sanad Naqsyabandiayah al Khalidiyah

Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bin Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni.

  • Syadziliyah

Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.

  • Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah

Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.

Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Imam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.

Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.

Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.

Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.

Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.

  • Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah

Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.

  • Thariqah Tijaniyah

Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh ’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki

  • Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya

Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah.

Dari guru-guru tersebut, Habib Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, bai’at khash dan ‘aam, talqin, zikir, kitab-kitab hadis, shalawat dan lain sebagainya.


95 GURU HABIB LUTHFI BIN YAHYA

  1. Habib Ali bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (ayah),
  2. Habib Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
  3. Habib Husein bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Pekalongan),
  4. Habib Abubakar bin Abdullah Alattas (Pekalongan),
  5. Habib Hamid al-Habsyi,
  6. Syaikh Ahmad bin Mahfudz,
  7. Habib Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
  8. Syaikh Muhammad Kaukab bin Muslim (Benda Kerep Cirebon),
  9. Syaikh Muhtadi bin Muslim (Benda Kerep Cirebon),
  10. Syaikh Arsyad bin Muhammad Amin (Benda Kerep Cirebon)
  11. Syaikh Muhammad Bajuri (Sudimampir Balongan Indramayu)
  12. Syaikh Masyhadi bin Muslim bin Utsman (Karangampel Indramayu),
  13. Habib Sholeh bin Abdullah al-Hinduan (Karangampel Indramayu),
  14. Habib Abubakar bin Abdullah Ba’abud (Indramayu),
  15. Habib Alwi bin Yusuf bin Ahmad Bin Yahya (Indramayu),
  16. Habib Muhammad bin Thoha bin Umar Bin Yahya (Indramayu),
  17. Habib Muhammad bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Kliwed Kertasemaya Indramayu),
  18. Habib Syaikh bin Abubakar bin Syaikhan Bin Yahya (Jagasatru Cirebon),
  19. Habib Muhammad bin Umar bin Abubakar Bin Yahya (Pegagan Palimanan Cirebon)
  20. Habib Ahmad bin Ismail Bin Yahya (Jenun Arjawinangun Cirebon),
  21. Habib Umar bin Ismail Bin Yahya (Panguragan Cirebon),
  22. Habib Ibrahim bin Ismail Bin Yahya (Gegesik Cirebon),
  23. Habib Idrus bin Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Cirebon),
  24. Habib Ali bin Husein Alattas (Cikini Jakarta),
  25. Habib Umar bin Hud Alattas (Jakarta),
  26. Habib Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
  27. Habib Yahya bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Pekalongan)
  28. Habib Abdullah bin Salim Maulachelah (Pekalongan)
  29. Habib Zain bin Ali al-Jufri (Semarang)
  30. Habib Idrus bin Muhammad Assegaf (Semarang)
  31. Habib Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi (Solo)
  32. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf (Solo)
  33. Habib Umar bin Abdul Qadir Alaydrus (Solo)
  34. Habib Ahmad bin Ali Bafaqih (Tempel Sleman Jogjakarta)
  35. Habib Umar bin Thoha Bin Yahya (Surabaya)
  36. Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya)
  37. Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul Jember)
  38. Habib Muhsin bin Hadi al-Hamid (Beran),
  39. Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih (Malang)
  40. Habib Hasan bin Utsman Bin Yahya,
  41. Habib Utsman bin Alwi bin Utsman Bin Yahya (Jakarta)
  42. Habib Muhammad bin Aqil Bin Yahya (Jakarta)
  43. Habib Ahmad bin Muhammad al-Haddad (Jakarta)
  44. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Mekkah),
  45. Habib Ahmad Masyhur al-Haddad (Tarim Yaman),
  46. Syekh Sa’duddin al-Halabi ad-Dimasyqi (Mekkah),
  47. Habib Muhammad bin Alwi al-Maliki (Mekkah),
  48. Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz Bin Syaikh Abubakar bin Salim (Tarim Yaman),
  49. Habib Zain bin Ibrahim bin Smith (Madinah),
  50. Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi (Tarim Yaman),
  51. Habib Hasan bin Salim Alattas (Singapura),
  52. Syaikh Abdullah al-Faqih bin Umar al-Khathib (Singapura)
  53. Habib Ali bin Umar Bafaqih (Negara Bali),
  54. Habib Muhammad al-Qadhi al-Kaf (Tegal),
  55. Habib Hasan bin Husein bin Muhammad al-Haddad (Tegal),
  56. Habib Muhammad bin Ali bin Thoha al-Haddad (Tegal),
  57. Habib Aqil bin Abdullah Bin Yahya (Kadipaten Majalengka),
  58. Syaikh Muhammad bin Abdullah Haujah (Semarang),
  59. Habib Idrus bin Abubakar al-Habsyi (Surabaya),
  60. Syarifah Zahra binti Abubakar bin Umar Bin Yahya (Surabaya),
  61. Syarifah Khadijah binti Hasyim Bin Yahya (Pekalongan),
  62. Syarifah Syaikhun binti Syaikh bin Alwi Bin Yahya (Jakarta),
  63. Syaikh Abdullah bin Nuh (Bogor),
  64. Syaikh Mahfudz bin Anwar (Blado Pekalongan),
  65. Syaikh Ali Bamahramah,
  66. Habib Hamid bin Muhammad al-Hanafi bin Salim Bin Yahya (Mekkah),
  67. Habib Muhammad bin Aqil Bin Yahya (Sokaraja Purwokerto),
  68. Sayyid Syaikh Muhammad Abdul Malik bin Ilyas (Kedung Paruk Purwokerto),
  69. Syaikh Muzni (Karangcengis Ajibarang Banyumas),
  70. Syaikh Ali bin Abubakar Basalamah (Jatibarang Brebes),
  71. Syaikh Manshur bin Nawawi (Kalimati Tegal),
  72. Syaikh Suhrawardi bin Nawawi (Tegal),
  73. Syaikh Said bin Armia (Giren Tegal),
  74. Syaikh Abdul Jamil (Pemalang)
  75. Syaikh Muhammad Dimyathi bin Nashir (Comal Pemalang)
  76. Syaikh Muhammad Nur (Walangsanga Moga Pemalang)
  77. Syaikh Muhammad Sholeh Madyani (Kebagusan Comal Pemalang)
  78. Syaikh Abdul Fattah bin Thohir (Kradenan Bangkalan)
  79. Syaikh Irfan (Kertijayan Pekalongan)
  80. Syaikh Ahmad Mudzakir bin Fadholi (Pekalongan)
  81. Syaikh Ru’yah (Kaliwungu Kendal)
  82. Syaikh Muhammad Ma’shum (Lasem Rembang)
  83. Syaikh Abdullah Salam (Kajen Pati)
  84. Syaikh Abdullah Hadziq bin Hasbullah (Jepara)
  85. Habib Ali bin Muhammad bin Syihab
  86. Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri (Tarim Yaman)
  87. Habib Ali bin Muhammad bin Abdul Qadir Assegaf (Tuban)
  88. Sayyid Afifuddin al-Jilani
  89. Sayyid Syaikh Muhammad Nadzim Adil al-Haqqani (Siprus)
  90. Syaikh Muhammad bin Abdul Bari Tegal
  91. Syaikh Zuhdi (Cikura Tegal)
  92. Syaikh Rais bin Armia (Cikura Tegal)
  93. Syaikh Utsman Abid al-Bamawi asy-Syadzili
  94. Habib Aqil bin Muhammad Ba’abud (Purworejo), dan
  95. Habib Abu Bakar al-‘Adni bin Ali al-Masyhur (Tarim Yaman).

Kegiatan-kegiatan

Habib Luthfi merupakan orang yang super sibuk, meskipun banyak amanah jabatan yang beliau emban tetapi beliau selalu siap menerima tamu dari semua kalangan kapanpun jika ia sempat. Beliau memiliki stamina yang luar biasa sehingga mampu duduk berjam-jam mendengarkan dan melayani segala keluh kesah umat yang disampaikan oleh para tamu yang berkunjung, setelah mendengarkan keluh-kesah para tamu yang mengunjunginya beliau akan memberikan nasihat dan solusi kepada para tamu sampai mereka puas dengan jawabannya. Ia tak pernah membeda-bedakan tamu yang datang, semua sama dimata beliau, pedagang, karyawan, pengusaha, sampai dengan para pejabat negri pun dilayananinya dengan baik.

Tak jarang pula banyak tamu yang sering menunggu berhari-hari untuk bertemu Habib karena jadwal kegiatan beliau yang sibuk sehingga sering pergi ke luar kota. Namun, karena kecintaan yang besar para tamu terhadapnya, mereka mau merelakan waktunya hanya untuk bertemu sang Habib.

Habib Luthfi dikenal sebagai orang yang sangat pemerhati, bukti dari sifat perhatiannya adalah jika saat-saat mudik tiba beliau suka turut membantu menertibkan lalu lintas yang macet bersama polisi. Hal tersebut adalah sebagai contoh kepada masyarakat bahwasanya ulama dan umara (pemimpin) harus saling bahu-membahu menjaga Indonesia, tidak boleh ada pergesekkan diantara ulama dan umara karena akan menyebabkan kehancuran negara.

Sebagai contoh yang lain adalah beliau rela bolak-balik Pekalongan-Semarang menghadiri undangan maulid Nabi SAW santrinya yang kebetulan mantan napi. Beliau tak pernah membeda-bedakan asal muasal dan latar belakang santrinya, semua diperlakukan sama oleh beliau, terlebih dalam undangan tersebut yang mengundang adalah preman yang insaf. Oleh karena itu, beliau hadir memenuhi undangan tersebut untuk menyenangkan dan memotivasi santrinya yang mantan preman itu sekaligus menjaga dan mengangkat nama baiknya dihadapan masyarakat umum.

Selain itu, Habib Luthfi memiliki kegiatan rutin, diantaranya:

  • Pengajian Thariqah tiap Jum’at Kliwon pagi (Jami’ul Usul Thariq al-Aulia).
  • Pengajian Ihya ‘Ulumidin tiap Selasa malam.
  • Pengajian Fath al-Qarib tiap Rabu pagi (Khusus untuk ibu-ibu).
  • Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah (Khusus ibu-ibu).
  • Pengajian tiap bulan Ramadhan (Untuk santri tingkat Aliyah).
  • Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.
  • Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya.
  • Halal bi Halal tanggal 2 Syawwal. Dan kegiatan lainnya.

Habin Luthfi memimpin kegiatan di Kanzus Shalawat, sebuah bangunan yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di kota Pekalongan. Ribuan jamaah selalu memadati bangunan tersebut untuk mengikutui ta’lim harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.

Adapun alamat sekretariatnya adalah :
Jalan dr. Wahidin 70 Pekalongan Jawa Tengah Phone / Fax. 0285-427997


Jabatan

  • Raais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyyah (sekarang)
  • Ketua MUI Jawa Tengah
  • Ketua MUI Kota Pekalongan (sekarang)
  • Pendiri PANUTAN (Paguyuban Antar Umat Beriman) (sekarang)
  • Penasihat Utama KBIH Assalamah Pekalongan

MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah An-Nahdhiyyah) merupakan organisasi yang diprakarsai oleh Habib Luthfi untuk mewadahi mahasiswa ber-thariqah.

Banyaknya amanah jabatan yang beliau emban dilandasi oleh pribadinya yang bertanggung jawab, Habib Luthfi tidak ingin mengisi jabatan tetapi jika beliau dipercaya untuk memikul amanah tersebut ia siap menjalankan tugasnya, beliau berkata bahwa tak harus menjadi posisi ketua untuk mengemban amanah, diletakkan dimana saja kita harus siap bekerja, karena setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihannya masing-masing.


Hobi

Disamping sosok seorang ulama tarekat, Habib Luthfi memiliki kegemaran yang terbilang unik dan nyentrik bagi statusnya, yakni bermain musik. Habib Luthfi menguasai beberapa alat musik khususnya piano, ia sangat gemar bermain piano hingga pada saat waktu senggangnya beliau menyempatkan diri untuk menekan tut tut piano yang ada sehingga terciptalah irama yang merdu. Kepiawaiannya bermain musik merupakan warisan ayahandanya, Habib Ali, ayahnya juga merupakan ulama sekaligus seniman musik yang sangat disegani masyarakat.

Disaat sebagian ulama berfatwa bahwa musik adalah haram maka bagi Habib Luthfi kebalikannya, inilah yang membuatnya nyentrik dibanding dengan ulama lain, baginya musik adalah alat untuk membaur kepada masyarakat dan juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.. Musik juga dipakai oleh para wali 9 dalam menyebarkan da’wah di Nusantara, ini adalah cara beliau untuk membaur dengan masyarakat umum karena musik adalah salah satu hal yang sangat digemari dan familiar di masyarakat. Habib Luthfi sudah melakukan beberapa rekaman, salah satu karya beliau adalah lagu Cinta Tanah Air. Lagu ini berisi ajakan untuk mencintai Tanah Air dan para pahlawan pejuang kemerdekaan.

Selain musik klasik dan jazz, Habib Luthfi juga gemar mendengarkan dan memainkan musik yang berirama Timur Tengah. Oleh karena itu, Habib Luthfi membuat grup musik gambus untuk menyalurkan hobinya tersebut.


Semangat Santri

Kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh semua golongan masyarakat. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, kaya, miskin, ulama, pekerja, tua dan muda, semua bersatu berjuang melawan penjajahan. Artinya, santri dan kyai pasti ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan.

Dahulu, pesantren-pesantren menjadi posko perlawanan terhadap penjajah, para santri dididik oleh Kyai agar memiliki ghirrah memperjuangkan tanah air Indonesia, sampai-sampai memakai pakaian seperti penjajah pun diharamkan sebagai bentuk perlawanan terhadap bansga penjajah.

Salah satu tokoh ulama yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah K.H Hasyim Asy’ari, beliau adalah seorang ulama kelahiran Jombang, 14 Februari 1871 M atau 12 Dzulqa’dah 1287 H merupakan Rais Akbar daripada ormas Islam Nahdhatul Ulama sekaligus pendiri pondok pesantren Tebuireng didaerah Jombang, Jawa Timur.

Kehadiran beliau di dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia cukup penting karena pada tanggal 14 September 1945 beliau mengadakan pertemuan terbatas dengan para ulama di pesantren Tebuireng yang kemudian menghasilkan fatwa jihad. Ada 3 poin dalam fatwa jihad tersebut, adapun poin-poinnya ialah:

1. Hoekoemnja memerangi orang kafir jnag merintangi kepada kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardoe ‘ain bagi tiap2 orang Islam jang moengkin meskipoen bagi orang fakir.

2. Hoekoemnja orang jang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplot2nya adalah mati sjahid.

3. Hoekoemnja orang jang memetjah persatoean kita sekarang ini wajib diboenoeh.

Fatwa jihad tersebut kemudian yang menjadi cikal bakal dikeluarkannya Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 di Purwokerto oleh Nahdhatul Ulama. Resolusi Jihad yang dikeluarkan tersebut diawali dengan kegalauan Presiden Soekarno temtang pasukan Inggris dan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang akan datang ke Indonesia untuk merongrong kemerdekaan Indonesia.

Hasil daripada Resolusi Jihad ini terbukti dapat membangkitkan rakyat Indonesia untuk bangkit melawan. Ribuan santri dan kyai seantero Jawa mengamini fatwa yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asyari, mereka ikut bertempur dalam medan perang melawan penjajah.

Setelah 18 hari dikeluarkannya Resolusi Jihad maka pecahlah peristiwa 10 November 1945 yakni pertempuran klimaks Surabaya melawan Sekutu (Inggris) yang dipimpin oleh Jendral Soetomo yang menyebabkan tewasnya Jendral Inggris, Mallaby.

Dari fakta sejarah tersebut jelaslah bahwa santri dan kyai terbukti turut berandil besar dalam proses kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi santri untuk mengisi kemerdekaan ini dengan penuh percaya diri dan semangat. Jangan sampai pengaruh negatif globalisasi membawa kehancuran bagi negara yang telah memiliki dasar UUD 1945 dan Pancasila.

Zaman sekarang banyak sekali gerakan-gerakan radikalis yang membahayakan kedaulatan negara, generasi muda yang mudah terpengaruh menjadi sasaran empuk bagi para militan radikalis. Oleh karena itu, kecintaan terhadap tanah air sudah harus sejak dini ditanamkan dalam jiwa agar memiliki semangat dalam mengisi kemerdekaan.

Tak perlu minder ataupun malu menjadi santri karena justru santri memiliki catatan historis yang krusial bagi kemerdekaan Indonesia. Cara untuk mempertahankan kemerdekaan ini ialah dengan belajar yang tekun, menjadi putra kebanggaan Ibu Pertiwi yang berhasil meneruskan perjuangan para pahlawan.

Jadilah seorang nasionalis-religius agar terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang kokoh dalam mempertahankan agama dan negara. Jangan hanya memiliki sifat nasionalis tetapi tidak religius ataupun sebaliknya.

Perlu diingat! Bahwa,

“Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”

Ayo bangkit para pemuda!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai